Contoh Laporan hasil wawancara dan observasi Pak Ogah


LAPORAN HASIL WAWANCARA DAN OBSERVASI MERAJUT ASA DI JALANAN SEBAGAI RELAWAN LALU LINTAS (PAK OGAH)
LogoUNP1-300x300.jpg
Tugas ini disusun sebagai tugas Mata Kuliah Sosiologi Perkotaan
Dosen: Delmira Syafrini S.Sos. M.Pd

Disusun oleh kelompok 2:
Mega Wirmadani
M. Robbi Fadly
Ahmad Sofyan Nasution
Hanifa Septiani
Mardiani
Hartania Darlin
Julia Putri Ayu

PENDIDIKAN SOSIOLOGI ANTROPOLOGI
FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2016

KATA PENGANTAR


Assalamu’alaikum Wr.Wb
       Dengan terucap lafadz Hamdallah yang merupakan rasa syukur kami kepada Allah SWT. Yang telah memberikan izin dan keridhaan-Nya kepada kami sehingga kami dapat mengerjakan Laporan Hasil Wawancara dan Observasi tentang  “Merajut asa di jalanan  sebagai relawan lalu lintas (Pak Ogah) sebagai tugas dari mata kuliah Sosiologi Perkotaan.
       Sekian kata pengantar ini kami sampaikan , kami menyadari sepenuhnya bahwa laporan ini masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu kritikan dan saran yang membangun dari pembaca sangat kami harapkan demi perbaikan yang akan datang.


Padang, Mei 2016

                                                                                                        Penulis





BAB I
PENDAHULUAN
      
A.    LATAR BELAKANG
       Susahnya mencari pekerjaan di tengah-tengah perkembangan zaman saat ini menimbulkan persaingan-persaingan antara kelas bawah dan kelas atas dimana kelas selalu memandang sebelah mata kaum kelas bawah dan selalu memandang dari segi negatifnya. Persaingan hidup yang lumayan keras di Kota Padang  membuat pak Ogah semakin bertambah banyak. Dari sini timbullah berbagai masalah mulai dari segi pandang berbagai kelas atas yang menganggap bahwa keberadaan mereka hanya mengganggu saja sampai pandangan mereka sangat membantu lalu lintas, dan kadang sifat pribadi mereka  yang membuat mereka susah untuk maju. Maka dari itu kami mencoba mengkaji dan melakukan observasi terhadap keberadaan mereka mulai dari penyebab atau  latar belakang mereka menjalani profesinya, penyebab pandangan negatif  dari kelas atas terhadap mereka, realita yang terjadi di lapangan, serta harapan-harapan mereka untuk kedepannya.
      Maka kami memberi judul observasi kami yaitu “ Merajut Asa di jalanan sebagai relawan lalu lintas (Pak Ogah)”.

B.     METODE PENGUMPULAN DATA
a.       WAWANCARA
       Dalam memperoleh data dan informasi kami menggunakan model wawancara. Wawancara adalah teknik yang paling banyak digunakan untuk menilai kompetensi berbicara seseorang dalam suatu bahasa.



b.      OBSERVASI
       Observasi merupakan salah satu teknik pengumpulan data yang tidak hanya mengukur sikap dari responden namun juga dapat digunakan untuk merekam berbagai fenomena  yang terjadi (situasi dan kondisi). Kami melakukan observasi di sepanjang jalan raya di depan Universitas Negeri Padang.


















BAB II
PEMBAHASAN

         Sebutan “Pak Ogah” pada awalnya adalah salah satu nama tokoh boneka yang  ada di serial Si Unyil yang identik dengan jargon “cepek dulu”, dalam kehidupan nyata istilah “Pak Ogah” mengalami pergeseran  makna menjadi sebuah sebutan untuk suatu jenis pekerjaan yang digeluti masyarakat. “Pak Ogah” merupakan sebutan masyarakat terhadap seseorang atau sekelompok orang  di luar institusi negara yang mengatur jalan di persimpangan-persimpangan. Tujuan dari “Pak Ogah” ini ialah hanya untuk mendapatkan nafkah kehidupan atau berlatarkan motif ekonomi semata.
        Objek kami adalah anak-anak serta orang dewasa yang bekerja sebagai relawan lalu lintas di persimpangan-persimpangan jalan di Kota Padang yang bisa di panggil Pak Ogah. Mereka bekerja dari pagi sampai sore bahkan ada yang sampai malam. Pada umumnya mereka merajut asa di persimpangan jalan sebagai relawan lalu lintas dengan alasan ekonomi.
A.    Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Observasi pertama
Hari/Tanggal   : Rabu, 16 September 2015
Tempat            : Jalan raya Air Tawar Barat, depan UNP
Observasi kedua
Hari/Tanggal   : Kamis, 17 September 2015
Tempat            : Jalan raya Air tawar Barat, Depan UNP





B.     Identitas Informan yang bekerja sebagai Pak Ogah
Informan Pertama
Nama                           : Amir
Jenis Kelamin              : Laki-Laki
Umur                           : 13 Tahun
Tempat Tinggal           : Tunggul Hitam
Agama                         : Islam
Informan kedua
Nama                           : Gio
Jenis Kelamin              : Laki-Laki
Umur                           : 15 Tahun
Tempat Tinggal           : Tabing
Agama                         : Islam
       Lokasi kami melakukan observasi yaitu di Jln. Prof. Dr. Hamka, air Tawar Barat, tepatnya di sepanjang jalan raya di depan Universitas Negeri Padang. Para relawan yang kerap kami temui adalah anak-anak, walaupun ada beberapa remaja dan orang dewasa. Namun kami hanya mewawancarai 2orang pak Ogah saja karena mereka sulit untuk di ajak berbicara. Selanjutnya kami juga mewawancarai Dinas Perhubungan yaitu Bapak Erianto S. yang  kebetulan sedang bertugas mengatur dan melarang anak-anak di persimpangan jalan yang bekerja sebagai Pak Ogah untuk segera menjauh dari persimpangan tersebut, serta kami mendapatkan informasi juga dari masyarakat Kota padang di daerah Tunggul Hitam mengenai Pak Ogah.
       Kehidupan sehari-hari seorang anak yang bekerja sebagai  Pak Ogah yang masih tinggal dengan orangtua menunjukkan bahwa ia berada di jalanan hanya untuk bekerja mencari uang saja dan bukan sekaligus untuk hidup di jalanan, kemudian ia juga memberikan hasil pendapatannya kepada orangtua untuk memenuhi kehidupan sehari-hari keluarga nya. Hal ini menjadi bukti bahwa ikatan keluarga nya masih kuat. Begitupun juga dengan orang dewasa yang kami wawancarai ia bekerja untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya, ia bekerja lantaran tidak ada pekerjaan lain yang bisa ia lakukan selain menjadi relawan lalu lintas.
       Keberadaan pak Ogah di Kota Padang terbilang banyak namun tidak ada data yang mencatatnya membuat kami kesulitan mengetahui jumlah pasti Pak Ogah di Kota Padang. Dari pengamatan di lapangan, para Pak Ogah di Padang ini bekerja secara berkelompok, dalam satu kelompok tersebut terdapat 3 sampai 5 orang lebih, mereka biasanya datang  ke lokasi kerja secara bersama-sama tetapi yang bekerja mengatur lalu lintas hanya satu atau tiga orang saja. Dalam satu kelompok biasanya memiliki kesepakatan-kesepakatan yang telah ditentukan, salah satu bentuk kesepakatan mereka adalah dalam menentukan bagaimana cara mengatur waktu pergantian kerja. Selain itu, kelompok-kelompok Pak Ogah ini memiliki lokasi maing-masing yang dijadikan tempat bekerja dan juga biasanya tetap pada satu tempat saja tidak berpindah-pindah ke lokasi lain.
       Lokasi Pak Ogah yang sering kami jumpai adalah di sepanjang persimpangan jalan di depan Universitas Negeri Padang dan di daerah Tunggul Hitam. Dari hasil observasi, kami melihat bahwa lokasi ini memiliki posisi yang strategis karena di persimpangan ini merupakan lokasi lalu lintas yang ramai dan padat sehingga kemungkinan mendapatkan uang semakin besar.
       Para informan dalam melakukan pekerjaan sebagai Pak Ogah memiliki berbagai bahaya yang harus dihadapi. Dari pengakuan mereka dalam observasi mereka pernah terjaring razia oleh polisi , hal ini disebabkan karena pekerjaan mereka di anggap bagi sebagian orang sebagai pekerjaan yang meresahkan pengguna jalan karena mengganggu lalu lintas dan menjadi penyebab kemacetan. Meskipun terkena razia dan dianggap mengganggu pengguna jalan, tapi kenyataannya mereka kembali bekerja dengan alasan bila tidak bekerja mereka tidak bisa mencari uang dengan cara yang lain. Mereka tetap harus bekerja meskipun berbahaya, karena faktor pendorong yang membuat mereka untuk bekerja adalah faktor ekonomi.
       Pengalaman kami selama melakukan observasi dan wawancara sangat menarik dan mengesankan karena kami melihat langsung bagaimana cara Pak Ogah dalam bekerja di persimpangan jalan di Kota Padang. Walaupun sangat sulit mendapatkan informan untuk di ajak wawancara, setidaknya kami mendapatkan 4 orang informan, dua orang merupakan objek kami yaitu Pak Ogah, sementara dua orang lainnya adalah Dinas Perhubungan yaitu Bapak Erianto S. dan seorang lagi adalah masyarakat Kota Padang yaitu Bapak Yudesmen.
















BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
       Persaingan hidup yang lumayan keras di Kota Padang  membuat pak Ogah semakin bertambah banyak. Dari sini timbullah berbagai masalah mulai dari segi pandang berbagai kelas atas yang menganggap bahwa keberadaan hanya mengganggu pengguna jalan.
       Kehidupan sehari-hari seorang anak yang bekerja sebagai  Pak Ogah yang masih tinggal dengan orangtua menunjukkan bahwa ia berada di jalanan hanya untuk bekerja mencari uang saja dan bukan sekaligus untuk hidup di jalanan, kemudian ia juga memberikan hasil pendapatannya kepada orangtua untuk memenuhi kehidupan sehari-hari keluarga nya.
       Para Pak Ogah pernah terjaring razia oleh polisi , hal ini disebabkan karena pekerjaan mereka di anggap bagi sebagian orang sebagai pekerjaan yang meresahkan pengguna jalan karena mengganggu lalu lintas dan menjadi penyebab kemacetan.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Monoetnik dan Masyarakat Homogen

Visi, Misi dan Tujuan IMS Rayon Unp